Kementerian Kesehatan hingga tanggal 7 November 2010 telah mengirim 455 orang tenaga kesehatan, yang terdiri dari 17 fasilitator, 16 dokter spesialis, 3 psikiater, 64 dokter umum, 4 dokter gigi, 4 DVI, 3 apoteker, 226 perawat, 1 bidan, 106 surveilans, 4 logistik, 3 ahli gizi, 2 dokter bedah, 1 dokter anestesi, dan 1 dokter anak.
Pasca bencana tsunami yang terjadi 25 Oktober 2010 pukul 21.52 WIB di Kab. Pulau Mentawai Prov. Sumatera Barat, pasca gempa bumi berkekuatan 7,2 SR, Kementerian Kesehatan RI telah memobilisasi bantuan, antara lain, dana operasional Rp. 100 juta, memberikan pelayanan kesehatan, melakukan surveilans penyakit dan lingkungan, imunisasi TT terhadap 124 orang relawan, penyemprotan dan pencegahan penularan malaria, mendirikan 4 pos kesehatan di Kec. Sikakap, perbaikan kualitas air bersih dan sanitasi serta pembagian aquatab, perbaikan gizi anak balita, dan trauma healing.
Bencana tsunami telah mengakibatkan korban meninggal 445 orang. Korban rawat inap 46 orang tersebar di Kab. Kep. Mentawai (Puskesmas Atas, Puskesmas Bawah, Gereja, Sipora Selatan, RS Tuah Pejat, RS Lapangan TNI), dan Kota Padang (RSUP M. Jamil). Korban rawat jalan 325 orang. Pulang sembuh 99 orang, dan sebanyak 14.363 orang mengungsi di lapangan bola Kec. Sikakap dan tersebar di pulau-pulau.
Serta menyebabkan beberapa fasilitas kesehatan rusak: 1 Puskesmas Malakopak, 1 Pustu Malakopak, 3 Polindes (Muntei Kecil, Lima Sua, dan Surat Kaban), dan 1 Kantor Desa (dijadikan Yankes) di Kecamatan Malakopak.
Demikian pantauan yang diperoleh Pusat Penanggulangan Krisis (PKK) Kemenkes dari Dinas Kesehatan Kab. Kep. Mentawai dan PPK Sub Regional Sumatera Barat sampai dengan 7 November 2010 pk.16.00 WIB. (courtesy of depkes RI)


